Sabtu, 22 September 2012

I'm not Lost

Beberapa hari yang lalu aku putus dengan pacarku. Asli masih terasa patah hatinya hingga hari ini, tiga bulan setelah kejadian itu. Setiap malam tidurku terasa tidak nyenyak entah kenapa hal itu kubiarkan terlalu lama menjadi keseharianku. Aku terlalu galau padahal dulu aku tidak sebegininya.

Ah aku suka uring-uringan sendiri bila memikirkan pertanyaan yang sering berputar dalam otakku. "Mengapa dia begitu pengaruh dihidupku?", pertanyaan itu pertanyaan yang sulit untuk kujawab.

Di tengah kegalauanku ini rupanya ada seseorang yang diam-diam memperhatikanku dari jauh. Tidak, dia tidak jauh dariku. Perhatiannya begitu dekat hanya tak pernah kulihat dan kuanggap hingga kuanggap dia jauh.

"You're not lost", begitu katanya, aku tak percaya ada orang yang tak pernah kuanggap namun masih tetap dan masih mau memperhatikanku bahkan dikala aku merasa patah hati karena orang lain.

Aku tahu I'm not lost because I beside you now and forever. Mulai detik ini aku berjanji tidak akan mengacuhkan orang-orang yang telah membiarkan dirinya memperhatikanku secara penuh. Terima kasih atas perhatianmu, kini aku merasa tidak lagi sendiri.

MICHAEL BUBLE - LOST

Maafkan Aku

Hari ini aku sempat berdebat tidak jelas dengan ibuku, rupanya hal itu membuat ibuku merasa kesal denganku. Apa sih salahku apa aku tidak boleh berpendapat? Apa aku hanya boleh mendengarkan saja?

"Kalau dibilangin selalu bantah, kapan sih dengerinnya?", oke kalimat itu sudah sering terucap olehnya dan aku selalu sakit hati mendengarnya. Tanpa bermaksud sebelumnya aku justru menanggapi kemarahan mama dengan cara yang mungkin tidak disukai beliau, tapi jujur kalau aku jadi beliau mungkin aku akan melakukan hal yang sama.

Lalu aku pergi ke kamar menangis sejadi-jadinya, aku selalu disalahkan olehnya, sedang adikku dibela terus. Aku tahu adikku lebih berprestasi dariku, tapi apakah itu berarti semua yang kulakukan salah? Ah aku tak mengerti.

Aku mengambil album foto dan melihat beberapa lembar foto, air mataku semakin luruh. Album itu telah usang namun meninggalkan sejarah hidupku yang begitu panjang. Aku melihat mama menggendongku dengan penuh cinta tapi hari ini aku membuatnya kesal dan seperti menyesal memiliki anak sepertiku. Di lembar lain aku melihat gambar mama sedang menyuapiku dengan perhatiannya.

Semua pengorbanan mama padaku begitu besar, kata orang-orang dulu aku begitu disayangnya aku begitu dimanja olehnya. Aku adalah anak kebanggaan mama kata orang-orang, namun dengan mudahnya aku men-judge mama hari ini. Aku mengatakan mama pilih kasih, aku mengatakan mama selalu menyalahkanku tak pernah mau mengerti aku, bahkan aku sadar seringkali tak kuhiraukan nasihatnya.

Mama seandainya kau tahu isi hatiku aku sangat menyesal telah melakukan itu padamu, aku lost control. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu, dengarkanlah isi hatiku ini ma.

"Lebih sakit dilawan anak yang sudah besar karena harusnya dia sudah berpikir", itu ucapmu sebagai amarahmu. Meski kau ucapkan itu dengan lembut namun aku tahu kau begitu kecewa denganku.

Mama maafkan aku, bukannya aku tak peduli denganku. Aku sungguh sangat menyayangimu hanya saja kadang kita berbeda pendapat. Kau tak terima aku pun tak terima jadilah kita berdebat seperti hari ini. Aku ingin sekali membisikkan di telingamu bahwa aku selalu menyayangimu setulus hati, aku selalu mengenangmu dalam hati. Aku selalu berusaha membuatmu bangga padaku meski hingga hari ini belum ada hal yang dapat kubanggakan padamu. Maafkan anakmu.

POTRET- BUNDA

Kamis, 20 September 2012

Sempat Memiliki

Riska termenung di jendela kamarnya sambil menikmati indahnya malam dihiasi gemerlap bintang gemintang. Dia teringat seseorang yang sempat mengisi hari-harinya, Ray. Ah, kenapa dia masih selalu terbayang akan sosok Ray?

"Ris, aku harus pergi aku mau melanjutkan studi di luar", begitu katanya sebelum Ray benar-benar pergi.
"Baiklah aku akan selalu mendukungmu", Riska berharap tak ada sesuatu pun yang terjadi hari itu, ia ingin semuanya seperti ini saja.
"Sepertinya hubungan kita cukup sampai di sini saja, aku senang mengenalmu selama setengah tahun ini, akrab denganmu, berbagi cerita denganmu, dan semua yang telah kita lalui bersama", itu ungkap Ray, Riska tak pernah memikirkan kalimat itu akan muncul dari bibir Ray.
"Kenapa harus berakhir? Bukankah kita masih bisa melanjutkan hubungan jarak jauh?", Riska sudah terlalu dalam dengan rasa sayangnya, ia tak mau kehilangan Ray secepat itu.
"Enggak bisa Ris, aku enggak yakin dengan hubungan itu, aku tahu kamu bisa dapetin yang lebih baik dariku", Ray menegaskan.
"Baiklah kalau itu maumu, aku akan menuruti", Riska tak tahu harus mengatakan apalagi selain kalimat persetujuan, ia yakin ia tak memiliki pilihan lain.

Malam ini Riska teringat lagi akan hari itu, hari sebelum keberangkatan Ray ke Jerman. Ia sungguh rela melepas kepergian Ray apalagi itu cita-cita yang sangat diimpikan olehnya. Namun, hati Riska masih berharap keajaiban datang padanya. Sebulir rindu telah menggunung di hatinya, bahkan kini hatinya bertanya-tanya apakah di sana Ray juga merindukannya? Apa kabarnya dengan Ray? Selama hampir satu tahun tak ada kabar darinya, apa mungkin Ray sudah memiliki pendamping lain?

Riska merasakan hatinya hancur luluh lantah atas kejadian itu, namun Riska bisa apa? Yang ia tahu Ray masih membawa pengaruh di hidupnya, ia merasa Ray adalah separuh nafasnya. Riska masih dapat merasakan Ray tetap berada di benaknya meski ia tahu belum tentu di hati Ray seperti itu. Pada akhirnya Riska merasa beruntung sempat memiliki Ray sebelum ini.

YOVIE N NUNO - SEMPAT MEMILIKI

Eriska's Phone Number

-->
              Riska berjalan pulang sendiri, sudah jelas dia tidak memiliki kekasih seperti ketiga sahabatnya yang selalu pulang diantar pacarnya. Hari ini Riska terlihat tak seperti biasanya, ia suntuk teramat suntuk justru. Ia menendang batu-batuan tanpa arah tak menentu, dan satu batu mendarat di kepala seseorang.
            “Aduh”, teriak orang tersebut, lamunan Riska segera buyar dan ia cepat-cepat menghampiri orang tersebut.
            Orang itu menggaruk-garuk kepalanya yang tertimpuk tendangan Riska. Riska yang merasa bersalah segera meminta maaf. “Maaf-maaf”, Riska memohon-mohon.
            “Oh kamu yang nimpuk batu?”, suara cowok itu meninggi.
            “Tadi keasyikan nendang, maaf banget ya”, Riska sedikit takut mendengar suara tinggi itu, ia seperti takut diterkam macan kelaparan.
            “Sudah dong sudah enggak enak dilihat banyak orang”, melihat Riska yang all out dalam memohon maafnya pemuda itu menjaid risih.
            “Maafin ya”, Riska mengumbar senyum kepada cowok itu, sepertinya Riska tidak pernah melihat cowok itu di sekolah, lalu anak mana pemuda berseragam putih abu-abu ini.
            “Iya enggak apa-apa, oh iya kamu anak SMU Cempaka?”, tanyanya diikuti senyum yang sangat menawan. Hal sekecil itu ternyata membuat hati Riska berdesir kuat, ia belum pernah melihat senyum semanis itu dan dikeluarkan oleh cowok setampan cowok di hadapannya.
            “Iya, lha kamu sendiri anak Cempaka?”, Tanya Riska biasa.
            “Bukan, aku anak Garuda, hehe. Kenalin, nama aku Ray”, Diulurkannya tangan itu, Riska tidak percaya secepat itu pemuda yang tertimpuk karenanya memperkenalkan diri.
            “Oh ya, aku Eriska. Kirain anak Cempaka juga, tapi rancu juga sih soalnya aku enggak pernah lihat kamu”, Riska masih santai berjalan di samping cowok itu.
            “Ah masa? Aku sering kok lihat kamu, ternyata kamu kurang perhatian nih sama sekitar hehe”, tawa cowok itu begitu renyah di telinga Riska, ia semakin ingin sering mendengarnya tertawa.
            “Apa iya sih? Kok aku enggak nyadar ya sering ketemu cowok cakep kaya kamu”, ups Riska kelepasan memuji cowok itu, semoga cowok itu enggak kepedean.
            “Haha udah banyak sih yang bilang aku cakep. Emm, kamu juga cantik kok Riska”, tuh kan tertawanya sudah mulai membuat Riska ketagihan lagi dan sekarang wajah Riska memanas seperti ada laser yang menyentuh wajahnya, pertanda apakah ini?
            “Aku gampang terbang kalau dipuji, tapi makasih loh. Senang berkenalan denganmu”, Riska melambaikan tangannya karena ia sudah harus naik angkutan umum untuk segera sampai rumahnya.
            Hari itu rasa yang aneh mulai terbit di hati Riska, sejak kejadian hari itu ia semakin sering bertemu dengan Ray. Ini pembuktian bahwa sebenarnya mereka sering berpapasan hanya saja Riska kurang peduli.
“Ya Tuhan beginikah rasanya jatuh cinta? Banyak hal-hal mengejutkan yang tumbuh dari dalam hati? Hatiku merasakan desiran kencang seperti di gurun pasir, wajahku memanas tanpa sebab, hatiku suka merasa berdetak lebih cepat, dan yang pasti aku ingin selalu di dekatnya untuk mendnegar suara dan tertawanya. Begitu nyaman berada di sisinya Tuhan”, Riska berbisik dalam hati. 
            "Ray, ini nomorku disimpan ya", Riska memberikan secarik kertas yang berisi deretan angka di dalamnya.
            "Untuk?", Ray terlihat heran dengan Riksa yang berbuat tiba-tiba.
            "Call me maybe", Riska memberikan senyuman genitnya sebelum ia menghilang ditelan bus kota.
            "Wait me", Ray mengatakan itu namun Riska tak mendengarnya lagi.


CARLY RAE JEPSEN - CALL ME MAYBE


Selasa, 18 September 2012

Aku dan Sempurna

Hari ini kayanya gue lagi mau mencurahkan apa yang ada di pikiran gue deh. Ya sesuailah dengan judul blog gue "What's On My Mind", gue ngerti kok kalau ada yang bilang gue nyontek sama facebook. Oke, mas Mark izin coppas ya, baik deh kamu (ih apa deh nih kalimat pembuka).

Kenapa ca judulnya aku dan sempurna? Sebab musababnya adalah karena gue lagi bete banget sama sempurna hari ini. Gara-gara pertanyaan Arif sih yang bikin gue mendadak ngutu, tak bergerak, tak bersuara, bingung, rasanya kaki udah gemeteran, suara gemeteran, muka udah panik setengah apa deh terserah. Tapi kayanya enggak ada yang perhatiin itu deh, gurunya pun tidak, apalagi Arif yang terkenal sebagai gudang pertanyaan. Jujur aja, gue enggak yakin tuh Arif dengerin, kalau dia dengerin enggak mungkin deh dia nanya dulu judul novel yang gue parafrasakan.

Ya emang sih gue akuin banget kalau gue yang salah di sini karena gue enggak terlalu nguasain ceritanya, sebenarnya bukan enggak kuasain sih, cuma nervous yang menguasai gue saat itu. Udah gue ngutu kaya gitu, gurunya enggak ngertiin dia maunya gue jawab pertanyaan Arif dan setelah gue jawab malah diketawain apes ah.

Ketika perjalanan pulang gue mikir (cie punya pikiran), kenapa tadi enggak gue jawab asal aja, kenapa gue harus mikirin jawaban yang sesuai dengan apa yang ada di dalam novel? Toh gurunya enggak baca itu novel meski beliau memerhatikan apa yang gue ceritain.

Pada akhirnya gue kepikiran harusnya gue bisa jawab dengan alasan:
1. Novelnya sempurna karena dibumbui oleh kisah benci dan cinta yang membuat kehidupan para tokoh menjadi sempurna.
2. Sempurna karena dengan adanya kejora di kehidupan Awang dapat mengubah perasaannya, mengobati luka hatinya, membuatnya merasakan kembali jatuh cinta pada orang lain. Semua itu membuat hidup Awang lebih sempurna dari sebelumnya.
3. Novelnya sesempurna dengan isinya yang berisi paket lengkap, yaitu paket humor ada, paket emosi ada, paket romantis ada, dan semuanya terasa sempurna.

Kenapa gue enggak jawab kaya gitu coba? malah ngutu, diem, stuck enggak jelas, cuma maju mundur memikirkan apa tagline di bawah judul sempurna karena dirasa itulah jawaban sesungguhnya. Oke sekarang gue inget tagline-nya adalah "Karena mencintaimu tak memerlukan alasan", iya cinta memang tak memerlukan alasan karena itulah cinta terasa sempurna bagi yang merasakannya. Oke fix Sempurna bikin galau.

Special thanks to nonier yang udah bikin novel sempurna yang akhirnya gue pilih untuk diresensikan, lalu untuk guru bahasa dengan tatapan sindirannya, tak lupa untuk Arif yang udah melontarkan pertanyaan jahatnya, dan satu lagi buat Rosi yang ada di depan gue, yang menambah rasa tegangan tinggi di diri gue (kamuflase). Hehe. Thanks for today, semoga enggak nervous lagi deh, biar pede dan enggak gemeteran.